Selasa, 27 November 2012

Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

 Whole Language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajara. (Ariyanto, 2012).
Whole language  juga merupakan suatu pendekatan pembelajaran bahasa  yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Wuryanto, 2010).
Rigg dalam bukunya mengungkapkan bahwa para ahli  whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah. Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. (Wuryanto, 2010)
Robert mengungkapkan bahwa Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ). (Wuryanto, 2010).
Sabarti Akhadian mengungkapkan bahwa Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang didasari paham constructivism. Dalam whole language  bahasa diajarkan secara utuh, tidak terpisah-pisah, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis diajarjan secara terpadu sehingga siswa dapat melihat bahasa sebagai suatu kesatuan (Alfian, 2012).
Froese (Hariyanto, 2012) berpendapat bahwa Pemakaian pendekatan whole language menekankan pada kebebasan guru dalam pembelajaran bahasa. Guru akan mudah menggunakan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa   apabila   bahasa   yang   diajarkan  digunakan   dalam   aktivitas sehari-hari sehingga komponen bahasa menjadi berarti.
Hartati,T (2009) mengungkapkan bahwa Whole  Language adalah  suatu  pendekatan  pembelajaran  bahasa  secara utuh  (menyeluruh).  Melalui  pendekatan  ini  pembelajaran  dilaksanakan  secara kontekstual, logis, kronologis, dan komunikatif dengan menggunakan setting yang nyata dan  bermakna.  Dalam  pendekatan  ini  terjadi  hubungan  yang  interaktif  antara  4 keterampilan  berbahasa  yaitu  mendengarkan,  berbicara,  membaca  dan  menulis
Gambar Keterampilan berbahasa
Hartati,  T (2009) juga mengemukakan  bahwa  tujuan  model pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan pendekatan “whole language” adalah  mengintegrasikan seluruh keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis) dan komponen kebahasaan (tata bunyi, tata bentuk,  tata  kalimat,  dan  tata  makna)  juga  penggunaan  multimedia,  juga dikaitkan  dengan  pengalaman  lingkungan  dan  pengembangan  fisik, mental, sosial, intelektual dan emosi anak.
Dari pengertian-pengertian para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Whole Language merupakan pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pembelajaran secara utuh, jadi komponen komponen bahasa seperti menyimak, menulis, berbicara, dan membaca disajikan secara terpadu. Dan dalam pendekatan Whole Languange, guru berperan sebagai fasilitator.

Menurut Routman dan Froese (Ariyanto, 2012) ada delapan komponen Whole Language, yaitu :
  1. Reading aloud. Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya.
  2. Journal writing. Journal writing atau menulis jurnal. Bagi guru yang menerapkan Whole Language, menulis jurnal adalah komponen yang dapat dengan mudah diterapkan.
  3. Sustained silent reading. Silent reading (SSR) adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibavanya. 
  4. Shared reading. Shared reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. 
  5. Guided reading. Dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. 
  6. Guided writing. Dalam guided writing atau menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaiman menulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik. 
  7. Independent reading. Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berlesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. 
  8.  Independent writing. Independen writing atau menulis bebas, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Teuku Alamsyah (Hariyanto, 2012) mendeskripsikan ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language. Tujuh ciri-ciri whole language, yaitu sebagai berikut:
Pertama, kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya. Semua ini disusun dengan rapi berdasarkan pengarang atau jenisnya sehingga memudahkan siswa memilih. Walaupun hanya satu sudut yang dijadikan perpustakaan, tetapi buku tersedia di seluruh ruang kelas.
Kedua, di kelas whole language siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Over head projector (OHP) dan transparasi digunakan untuk untuk memperagakan proses menulis. Siswa mendengarkan cerita melalui tape recorder untuk mendapatkan contoh membaca yang benar.
Ketiga, di kelas whole language siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya. Agar siswa dapat belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya, di kelas harus tersedia buku dan materi yang menunjang. Buku disusun berdasarkan tingkat kemampuan membaca siswa sehingga siswa dapat memilih buku yang sesuai untuknya. Di kelas juga tersedia meja besar yang dapat digunakan siswa untuk menulis, melakukan editing dengan temannya, atau membuat cover untuk buku yang ditulisnya. Langkah-langkah proses menulis tertempel di dinding sehingga siswa dapat melihatnya setiap saat.
 Keempat, di kelas whole language siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru. Siswa membuat kumpulan kata (word bank), melakukan brainstorming, dan mengumpulkan fakta. Pekerjaan siswa ditulis pada chart, dan terpampang di seluruh ruangan. Siswa menjaga kebersihan dan kerapian kelas. Buku perpustakaan dipinjam dan dikembalikan oleh siswa tanpa bantuan guru. Buku bacaan atau majalah dibawa oleh siswa dari rumah. Pada salah satu bulletin board terpampang pembagian tugas untuk setiap siswa. Siswa bekerja dan bergerak bebas di kelas.
Kelima, di kelas whole language siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan tidak tergantung. Siswa terlibat dalam kegiatan kelompok kecil atau kegiatan individual. Ada kelompok yang membuat pelajaran sejarah. Siswa lain secara individual menulis respon terhadap buku yang  dibacanya, membuat buku, menuliskan kembali cerita rakyat, atau mengedit draft final. Guru terlibat dalam konferensi dengan siswa atau berkeliling ruangan mengamati siswa, berinteraksi dengan siswa atau membuat catatan tentang kegiatan siswa.
Keenam, di kelas whole language siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru di kelas whole language menyediakan kegiatan belajar dalam berbagai kemampuan sehingga semua siswa dapat berhasil. Hasil tulisan siswa dipajang tanpa ada tanda koreksi. Contoh hasil kerja setiap siswa terpampang di seputar ruang kelas. Siswa dipacu untuk melakukan yang terbaik. Namun, guru tidak mengharapkan kesempurnaan. Yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima. Ketujuh, di kelas whole language mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Ciri kelas whole language adalah pemberian feed back dengan segera. Meja ditata berkelompok agar memungkinkan siswa berdiskusi, berkolaborasi, dan melakukan konferensi. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.
Ketujuh siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas menyampaikan materi. Sebagai fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.



DAFTAR PUSTAKA



Alfian, A. (2012, April 11). anggitya-alfian.blogspot.com. Retrieved september 13, 2012, from salah satu tugas dari bu laily: http://anggitya-alfian.blogspot.com
Ariyanto, D. (2012, Maret 25). arielyantodanang.blogspot.com. Retrieved September 13, 2012, from Pendekatan Whole Language:http://arielyantodanang.blogspot.com
Hariyanto. (2012, april 16). whole language. Retrieved september 13, 2012, from hariyanto-untuksenja.blogspot.com: http://hariyanto-untuksenja.blogspot.com
Hartati, T. (2009). Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Renddah. Bandung: UPI PRESS.
Sugarsih, S. Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD.
Wuryanto, A. (2010, agustus 20). aguswuryanto.wordpress.com. Retrieved september 13, 2012, from pendekatan whole language: http://aguswuryanto.wordpress.com

1 komentar:

  1. kog gak ada daftar pustakanya mbak??dikasih biar lebih komplit, hhee

    maturnuwun

    BalasHapus

selamat datang....
silahkan berkomentar...^.^